Mitigasi Bencana Melalui Edukasi Kearifan Lokal Dan Pemanfaatan Teknologi
Indonesia adalah negara yang rawan bencana alam. Dalam kurun waktu 2010-2019, catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa Indonesia terjadi 5.093 bencana yang mengakibatkan lebih dari 20 ribu jiwa meninggal dan 55.46 juta jiwa terdampak. Oleh karena itu, mitigasi bencana perlu dilakukan melalui edukasi kearifan lokal dan pemanfaatan teknologi.
Edukasi Kearifan Lokal
Edukasi kearifan lokal atau yang lebih dikenal dengan istilah daya dukung masyarakat merupakan upaya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang kemampuan alam sekitar untuk membantu dalam mitigasi bencana. Saat terjadi bencana alam, masyarakat sekitar seringkali menjadi penyelamat pertama bagi korban bencana. Oleh karena itu, edukasi kearifan lokal sangat penting untuk diberikan pada masyarakat, terutama pada daerah yang menjadi titik rawan bencana.
Selain itu, Indonesia memiliki keberagaman budaya yang sangat kaya, dan budaya tersebut ternyata bisa membantu dalam mitigasi bencana. Misalnya, di beberapa daerah di Indonesia, masyarakat memiliki kearifan lokal tentang bagaimana membangun rumah yang aman dari bencana banjir, tanah longsor, atau gempa bumi. Jika kearifan lokal tersebut dipelajari dengan baik, maka masyarakat akan memiliki pengetahuan yang cukup untuk membangun rumah yang lebih tahan terhadap bencana alam.
Pemanfaatan Teknologi
Di era digital seperti sekarang, teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk membantu mitigasi bencana. BNPB telah mengembangkan berbagai aplikasi yang berguna untuk penanggulangan bencana. Misalnya, aplikasi InaRISK yang memberikan informasi tentang risiko bencana di suatu wilayah, aplikasi Siaga yang memberikan informasi tentang cuaca dan gempa bumi, serta aplikasi Tagana yang berfungsi sebagai media komunikasi antara korban bencana dengan petugas penanggulangan bencana.
Selain itu, teknologi pertanian juga dapat dimanfaatkan untuk membantu mitigasi bencana. Pertanian botani atau pertanian tanpa tanah dapat menjadi alternatif dalam hal mitigasi bencana, terutama pada daerah yang sering terdampak banjir atau tanah longsor. Teknologi pertanian juga dapat dimanfaatkan untuk memprediksi awal terjadinya bencana, seperti curah hujan yang tinggi atau kekeringan yang berkepanjangan.
Kesimpulan
Mitigasi bencana perlu dilakukan melalui edukasi kearifan lokal dan pemanfaatan teknologi. Edukasi kearifan lokal akan memperkuat kesadaran masyarakat akan kemampuan alam sekitar dan keberagaman budaya yang ada. Sementara pemanfaatan teknologi akan mempercepat siaga bencana dan membantu proses penanggulangan bencana. Kedua hal tersebut sangat penting untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.